anak pembantu 02

Wasti baru sekali kuajak main
gaya begini tapi sudah langsung
tenggelam dalam kelebihan
rasanya. Terbukti baru disogok-
sogok beberapa saat saja dia
sudah tegang serius mukanya,
tapi sebelum sampai ke
puncaknya segera kuangkat dia
berpindah posisi ke tempat yang
lebih santai buat dia dan baru
sekarang kubaringkan tubuhnya
di atas tempat tidurnya.
“Wiihhss.. Mas Donny kangen
aku kontolmu Mass.. sshh
mantepp rasanya..” komentar
pertama dengan nada suara
bergetar terdengar senang seperti
anak kecil baru diberi mainan.
Saking rindu dan senangnya
sampai mengalir keluar airmata
bahagianya.
Tidak kusahut kata-katanya tapi
dengan gemas-gemas sayang aku
menindih untuk mengecup
menggigit bibirnya dan dari situ
kusambung dengan mulai
memainkan batangku keluar
masuk memompa di jepitan
lubang kemaluannya. Inipun
masih pelan saja tapi reaksinya
sudah terasa banyak buat kami.
Pinggulnya dimainkan membuat
lubang kemaluannya berputaran
memijati batanganku, hanya
tempo singkat kami sudah
meningkat dalam serius tegang
dilanda nikmatnya gelut kedua
kemaluan. Airmuka kami sama
tegang dan sinar mata sama sayu
masing-masing hanyut meresapi
jumpa mesra yang baru ini lagi
kami lakukan setelah lewat
cukup lama perpisahan
keintiman kami. Menatap wajah
si manis sedang hanyut begini
tentu saja menambah rangsangan
tersendiri yang membuatku
makin meningkatkan tempo,
sambil tetap meresapi asik yang
sama pada gelut dua kemaluan
kami.
“Enak nggak Was rasanya
punyak Mas..” bisikku menguji di
tengah kesibukanku, sekedar
ingin tahu komentarnya.
“Hsh iya ennak sekalli Mass..
kontol Mas Donny palingg ennak
dari semuanya.. hhssh wihh ker-
ras sekalli.. ennaakk.. Adduuh
Maas iya ditekenn gittu dalem
bbanget hhshh.. Mass Donyy
ennaak sekalii Maas..”
Wasti kuhapal memang type
spontan terbuka, dipancing
sedikit saja langsung keluar
suaranya mengutarakan apa
yang sedang dirasakannya. Jelas
menyenangkan mendapat partner
bercinta seperti ini, segera
kutenggelamkan juga perasaanku
menyatu dalam asyik sanggama
sepenuh perasaan dengannya.
Makin lama gelut kami makin
berlomba hangat tanda bahwa
masing-masing mulai menuju ke
puncak permainan, sampai tiba
di batas akhir kuiringi saat
orgasme kami dengan menempel
ketat bibirnya saling menyumbat
dengan lumatan hangat. “Hhrrh
hghh.. nghhorrh.. sshghh..
hoorrhgh hhng.. hngnhffgh..
ngmmgh..” suara tenggorokan
kami saling menggeros bertimpal
seru mengiringi saat ternikmat
dalam sanggama ini. Mengejut-
ngejut batang kemaluanku
menyemburkan cairan maniku
yang juga terasa seperti diperas-
peras oleh pijatan dinding
kemaluannya. Sampai terbalik
kedua bola mata kami saking
enak dirasa tapi begitupun
sumbatan mulutku belum
kulepas menunggu sentakan-
sentakan ekstasinya melemah.
Baru ketika helaan nafas leganya
ditarik tanda kenikmatan
berlalu, aku pun melepas
tempelan bibirku menyambung
dengan kecupan-kecupan lembut
seputar wajahnya.
“Hhahhmmhh Mas Ddony..
assyiknyaa.. keturutan kangenku
sama Mas..” kembali terdengar
komentarnya dengan masih
saling berpelukan mesra.
“Mas sendiri juga kangen sekali
sama kamu Was,” kataku jujur
membalas perasaan hatinya.
“Bener?” tanyanya menguji
dengan nada manja.
Tapi tetap menjepitkan otot-otot
lubang kemaluannya di
batanganku menunggu sampai
terlihat aku mulai mengendor
menghela nafas legaku, di situ
baru dia berhenti dan
membiarkan aku melepaskan
batanganku dari lubang
kemaluannya. Aku lega dan puas
tapi air mukanya juga tampak
berseri tanda senang telah
berhasil memuaskan
kerinduannya denganku.
Sejak dari hari itu berlanjut lagi
hubungan lamaku dengan Wasti
di setiap kedatanganku ke
rumahnya tapi dengan alasan
yang sama seperti Oom Rony
yaitu pura-pura minta dipijat
oleh Wasti. Hari itu aku datang
ke rumahnya bertemu dengan
Ardi yang sedang sibuk mencetak
di bangunan sebelah, dia
mempersilakan aku menemui
Wasti di rumah induk. Aku pun
mengiyakan dan waktu masuk ke
rumah kudapati Wasti di dapur
sedang mencuci piring-piring
dan gelas bekas makan siang
mereka. Wasti menoleh dan
tersenyum manis menyambut
kehadiranku serta meminta aku
menunggu dulu di ruang tamu.
Timbul niat isengku menggoda,
kurapati dia yang saat itu masih
berdiri di depan meja cucian
piring, langsung memeluk dari
belakang mencumbui dia.
Mengecupi lehernya sambil
kedua tanganku meremasi bukit
susunya. Karuan Wasti
menggeliat-geliat dengan muka
malu-malu geli, ingin
menghindar tapi mana mau
kulepas begitu saja. Akhirnya dia
diam saja membiarkan aku
menggerayangi tubuhnya, dia
sendiri tetap meneruskan
mencucinya karena dipikirnya
mana mungkin aku berani
mengajak dia untuk waktu yang
senekat ini.
“Mas Dony ini nggodain aku aja,
paling-paling Mas juga udah
ngiseng sama yang lain, sekarang
kayak sudah kepengen lagi..?”
“Lha memang kepengen kok,
sama kamu kan belum?”
jawabku sambil mengangkat rok
belakangnya, langsung
melorotkan celana dalamnya.
Tentu saja Wasti jadi kaget
karena tidak mengira bahwa aku
betul-betul serius meminta.
“Heh Mas Dony! Ngawur ah, ini
kan masih di dapur.. nanti aja di
kamar Mas.. kalau di sini nanti
ada yang liat gimana?”
Wasti masih coba
memperingatkan aku agar
mengurungkan kenekatanku tapi
aku sudah tidak bisa menahan
lagi. Malah sudah kulepas
ritsleting celanaku membebaskan
kemaluanku langsung
menempelkan batanganku di
selangkangannya.
“Kasih sebentar aja kan bisa
Was, dari sini kan kita bisa
ngeliat ke sebelah kalau ada
yang dateng..” kataku meminta
sambil menenangkan dirinya.
Kebetulan di dekat meja cucian
piring itu ada jendela kaca
darimana kami bisa melihat
keadaan bangunan percetakan di
sebelah.
“Ahhs Maass..!” Wasti kontan
menjengkit ketika terasa batang
telanjangku yang menempel di
lubang kemaluannya itu sudah
mulai naik mengencang.
Sempat bingung dia tapi dari
semula ingin berkeras
menghindar akhirnya Wasti jadi
tidak tega juga, langsung
melunak suaranya berbisik.
“Wih, wih Mass.. kok cepet
banget sih keras bangunnya..?”
“Makanya itu.. Mas Dony
masukin ya?”
“Iya tapi aku belum basah Mas..”
“Nanti Mas basahin sebentar..”
“Tapi jangan lama-lama ya,
nanti keburu ada yang dateng
malah tambah penasaran..”
Tanpa membuang-buang waktu
aku berjongkok di belakang
Wasti dan segera menyosor di
lubang kemaluannya yang juga
cepat memasang posisi agar lebih
mudah, dengan membuka
secukupnya kedua pahanya serta
menunggingkan sedikit
pantatnya. Sambil begitu Wasti
sendiri terpaksa menunda dulu
pekerjaannya dan menunggu
dengan bertopang kedua tangan
di tepi meja cucian sambil
pandangannya terus melekat
memperhatikan ke luar jendela
kaca itu. Niatnya memang
semula hanya ingin sekedar
memberi buat aku, tapi ketika
terasa sedotan dan jilatanku di
lubang kemaluannya ditambah
lagi dengan satu jariku yang
kucucukan menggeseki kecil di
lubang itu, yang begini cepat saja
membuat gairahnya terangsang
naik. Cepat-cepat dia membilas
kedua tangannya yang masih
penuh sabun karena sesewaktu
mungkin diperlukan untuk
memegangi tubuhku.
Betul juga, tepat saatnya dia
selesai membilas bersamaan aku
juga selesai mengerjai liang
kemaluannya. Segera kubawa
batanganku ke depan lubang
kemaluannya dan mulai
menyesapkan masuk dari arah
belakang, langsung saja sebelah
tangan yang masih basah itu
dipakai untuk memegang
pinggulku, sebagai cara untuk
mengerem kalau sodokkanku
dirasa terlalu kuat. Tapi rupanya
tidak. Biarpun sudah dilanda
gairah kejantananku, tapi aku
masih bisa meredam emosi tidak
kasar bernafsu. Selalu hati-hati
sewaktu membor batangku
masuk meskipun seperti biasa
Wasti selalu menunggu dengan
muka tegang. Dia baru melega
kalau batangku dirasanya sudah
terendam habis di lubang
kemaluannya.
“Keras sekali rasanya Mas..?”
komentar pertamanya sambil
menoleh tersenyum kepadaku di
belakangnya.
Kugamit pipinya dan
menempelkan bibirku
mengajaknya berciuman.
“Kalau ketemu lubangmu
memang jadi cepet kerasnya..”
jawabku berbisik sebelum
menekan dengan ciuman yang
dalam.
Kami mulai saling melumat
sambil diiringi gerak tubuh
bagian bawah untuk meresap
nikmat gelut kedua kemaluan
dengan aku menarik tusuk
batang kemaluan, sedang Wasti
memutar-mutar pantatnya
mengocoki batanganku di liang
kemaluannya. Inipun niat
semula masih sekedar memberi
bagiku saja, tapi tidak bisa
dicegah, dia pun dilanda nikmat
sanggama yang sama, yang
membawanya terseret menuju
puncak permainan bersamaku.
Dari semula gerak senggama
kedua kami masih berputaran
pelan, semakin lama semakin
meningkat hangat, karena
masing-masing sudah
menumpukkan rasa enak
terpusat di kedua kemaluan yang
saling bergesek, sudah bersiap-
siap akan melepaskannya sesaat
lagi. Wasti tidak lagi bertopang
di tepi meja tapi menahan
tubuhnya dengan lurus kedua
tangannya pada dinding
depannya. Di situ tubuhnya
meliuk-liuk dengan air muka
tegang seperti kesakitan tertolak-
tolak oleh sogokan-sogokan
batanganku yang keluar masuk
cepat dari arah belakangnya,
tapi sebenarnya justru sedang
tegang serius keenakkan sambil
membalas dengan putaran-
putaran liang kemaluannya yang
menungging. Masing-masing
sudah menjelang tiba di batas
akhirnya, hanya tinggal
menunggu kata sepakat saja.
“Aahs yyohh Wass.. Mass sudah
mau samppe..”
“Iya Mass.. sama-samaa..
sshhah-hhgh.. dduhh.. oohgsshh..
hrrh hheehh Wass ayyoo.. dduuh
Maass.. aaddussh hrhh..”
Pembukaan orgasme ini masing-
masing saling mengajak dan
berikutnya saling bertimpa
mengerang mengaduh dan
tersentak-sentak ketika secara
bersamaan mencapai batas
kenikmatan. Jika dihitung secara
waktu maka permainan kali ini
relatif cepat namun bisa juga
membawa Wasti pada
kepuasannya. Memang hampir
saja terlambat, karena baru saja
aku mencabut batang
kemaluanku sudah terdengar
langkah kaki seseorang akan
masuk ke rumah induk. Ternyata
memang Ardi yang datang. Wasti
sendiri tidak sempat lagi mencuci
lubang kemaluannya, buru-buru
dia menaikkan celana dalamnya
untuk menyumbat cairan mani
bekasku yang terasa akan
meleleh ke pahanya dan selepas
itu dia pura-pura kembali
meneruskan mencuci piring yang
sempat tertunda itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *